Pengertian Leasing Adalah : Jenis, Fungsi dan Tujuan

Pengertian Leasing

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai leasing maka perlu diketahui terlebih dahulu secara jelas pengertian leasing.

Istilah leasing berasal dari Bahasa Inggris yaitu to lease yang artinya adalah menyewakan namun berbeda dengan pengertian dari rent.

Menurut SK Menteri Bersama

Pengertian leasing menurut SK bersama antara Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor Kep 122/MK/IV/2/1974, Nomor 32/M/SK/2/1974 dan Nomor 30/Kpb/1/1974 adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala yang disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan untuk memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati secara bersama.

Menurut SK Menteri Keuangan

Pengertian leasing juga dijabarkan dalam SK Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 tertanggal 27 November 1991 dimana leasing disebutkan sebagai sewa guna usaha.

Pengertian leasing dalam SK Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 tertanggal 27 November 1991 adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal, baik secara sewa guna usaha dengan hak pilih atau hak opsi maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi untuk digunakan oleh Lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala.

Menurut Peraturan Presiden

Pengertian leasing juga tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan (“Perpres 9/2009”).

Berdasarkan Peraturan Presiden tersebut, leasing adalah suatu bentuk kegiatan pembiayaan berupa penyediaan barang modal, baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi atau biasa disebut dengan Finance Lease maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi atau disebut dengan Operating Lease untuk digunakan oleh penyewa guna usaha selama jangka waktu tertsntu berdasarkan pembayaran secara bertahap atau berangsur.

Menurut Frank Taira Supit

Frank Taira Supit mendefinisikan leasing sebagai pembiayaan perusahaan berupa penyediaan barang modal dengan cara pemakai melakukan pembayaran secara berkala dimana pemakai memiliki dua pilihan yaitu membeli atau memperpanjang jangka waku leasing berdasarkan nilai sisa.

Berdasarkan definisi-definisi mengenai leasing diatas, dapat disimpulkan bahwa leasing adalah suatu bentuk pembiayaan barang modal dengan jangka waktu tertentu dan pembayarannya dilakukan secara berkala dimana pembayaran tidak dapat dilakukan sewaktu-waktu.

Jenis Leasing

Dalam Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1169/KMK.01/1991 disebutkan bahwa ada dua jenis leasing yaitu Finance Leasing dan Operating Leasing.

Finance Leasing

Finance Leasing adalah bentuk sewa guna usaha yang kontraknya relatif untuk jangka waktu yang cukup panjang, tidak menutup kemungkinan hingga seumur hidup ekonomis dari aset yang disewa guna usahakannya.

Finance Leasing tidak dapat dibatalkan secara sepihak apabila dikemudian hari terpaksa harus dibatalkan maka pihak yang membatalkan harus menanggung segala bentuk kerugian yang timbul sebagai akibat dari pembatalan perjanjian tersebut.

Biaya pemeliharaan dan kerusakan dalam Finance Leasing ditanggung oleh Lessee sebagai pihak yang menyewa dan pada akhir perjanjian, Lessee diberikan hak opsi untuk membeli aset-aset yang disewanya dengan harga yang telah disepakati.

Lessee tetap memiliki hak untuk tidak menggunakan hak opsinya tersebut dan apabila terjadi hal ini maka kontrak sewa guna usaha dapat diputuskan atau diperpanjang lagi setelah tahap kontrak yang terdahulu berakhir.

Finance Leasing dibagi menjadi dua yaitu Direct Finance Lease dan Sales and Lease Back. Dalam transaksi Direct Finance Lease, jika pihak Lessor belum memiliki barang yang dikehendaki oleh Lessee maka Lessor dan untuk itu Lessor membeli barang yang dikehendaki oleh Lessee dan sekaligus menyewakan barang tersebut kepada Leasse.

Dalam jenis transaksi ini, Lessee dapat menentukan spesifikasi barang yang diinginkan termasuk penentuan harga dan suppliernya.

Dapat dikatakan bahwa proses pembelian yang dilakukan oleh Lessor hanyalah untuk memenuhi kebutuhan dari Lessee.

Jenis Finance Leasing yang kedua adalah Sales and Leave Back yaitu proses ini dilakukan dimana pihak Lessee menjual barang yang sudah dimilikinya kepada Lessor, kemudian dilakukan kontrak sewa guna usaha atas barang tersebut antara Lessee dan Lessor.

Dari penjelasan ini dapat dilihat bahwa Lessee memerlukan dana untuk menambah modal kerja maupun untuk kepentingan lainnya.

Operating Lease

Operating Lease adalah salah satu bentuk leasing yang mana jangka waktu kontrak sewa guna usahanya relatif singkat dan setiap saat bisa dibatalkan oleh lessee dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada Lessor.

Dengan kata lain, Operating Lease dapat dibatalkan atau diperpanjang atas persetujuan kedua belah pihak.

Operating Lease merupakan salah satu pembiayaan jangka pendek karena sifat dari perjanjian ini yang dapat dibatalkan. Lessor adalah pihak yang akan menanggung biaya pemeliharaan dan biaya kerusakan.

Sales-Type Lease

Sales-Type Lease adalah transaksi pembiayaan leasing secara langsung di mana jumlah transaksi termasuk laba, diperhitungkan oleh penyalur yang juga merupakan perusahaan leasing.

Leasing jenis ini merupakan jalur pemasaran bagi produk dari perusahaan tertentu.

Leverage Lease

Leveraged Lease adalah transaksi leasing yang melibatkan paling sedikit tiga pihak yaitu penyewa guna usaha dan kreditor jangka panjang yang membiayai bagian terbesar dari transaksi leasing.

Syndicated Lease

Syndicated Lease adalah salah satu jenis leasing yang terdiri dari beberapa perusahaan leasing yang secara bersama melakukan transaksi leasing dengan satu penyewa guna usaha dengan nilai transaksi yang cukup besar.

Fungsi Leasing

Fungsi leasing atau sewa guna usaha tidak jauh berbeda dengan fungsi Bank.

Nah, Fungsi Bank salah satunya adalah menyediakan pinjaman dalam bentuk uang/dana/cash sedangkan fungsi leasing adalah untuk menyediakan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi maupun tanpa hak opsi untuk kemudian digunakan oleh pihak atau nasabah yang membutuhkan barang modal selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala atau berangsur.

Tujuan Leasing

Tujuan Perusahaan Leasing

Untuk tujuan dari perusahaan leasing adalah memberikan kemudahan dan pelayanan yang cepat serta membiayai atau membeli barang yang dibutuhkan oleh nasabah atau pihak yang bersangkutan untuk kemudian menyewakan kepada nasabah ataupun dibeli oleh nasabah atau pihak yang bersangkutan.

Tujuan leasing bagi nasabah

Sedangkan tujuan leasing bagi nasabah atau pihak yang akan melakukan perjanjian leasing adalah untuk mendapatkan kemudahan dalam bertransaksi karena dalam kegiatan leasing tidak memerlukan jaminan yang besar sehingga fleksibel dan cepat dalam pelayanannya.

Tujuan leasing lainnya adalah untuk menghemat biaya dimana penggunaan barang atau peralatan melalui metode lessing pada prinsipnya jauh lebih murah dibandingkan dengan kredit Bank berdasarkan perhitungan value.

Tujuan Leasing bagi Perusahaan

Kemudian, tujuan leasing bagi nasabah yang merupakan sebuah perusahaan adalah membantu perusahaan untuk melindungi aset dari inflasi dan sebagai capital saving karena Lessor akan membiayai secara penuh barang modal yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Hal tersebut tidak bisa didapatkan apabila suatu perusahaan mengajukan kredit kepada Bank karena kredit Bank memiliki persyaratan yang cukup rumit dan membutuhkan jaminan yang besar agar pengajuan kredit dapat disetujui oleh pihak Bank.

Selain itu, leasing dinilai lebih fleksibel jika dibandingkan dengan kredit Bank karena besar pembayaran dan jangka waktu pembayaran dapat disesuaikan dengan kondisi perusahaan itu sendiri.

Perbedaan Leasing dengan sewa beli

Leasing berbeda dengan sewa beli. Dalam perjanjian leasing, penyewa guna usaha menjadi pemilik dari barang yang diperjanjikan apabila ia melaksanakan hak opsinya. Sedangkan dalam sewa beli, jika pembeli telah selesai membayar lunas harga yang telah disepakati bersama maka hak milik barang akan berpindah kepada pembeli.

Di Indonesia, kegiatan leasing yang berdasarkan landasan hukum yang pasti, mulai beroperasi sejak tahun 1974, yaitu sejak dikeluarkannya Surat Keputusan bersama antara Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan  Nomor Kep. 122/MK/IV/2/1974, Nomor Kep 32/M/SK/2/1974 serta Nomor Kep 30/Kpb/I/1974 tertanggal 7 Febuari 1974 tentang perizinan usaha leasing di Indonesia.

Pihak-pihak yang Terlibat dalam Kegiatan Leasing

Di dalam kegiatan leasing ada empat pihak yang terlibat yaitu Lessor, Lessee, Supplier dan Asuransi yang kemudian akan dijabarkan di bawah ini:

  • Lessor adalah perusahaan leasing yang menyediakan barang modal atau fasilitas pembiayaan bagi nasabah leasing yang membutuhkan.
  • Lessee adalah pihak atau nasabah yang membutuhkan barang modal atau pembiayaan.
  • Supplier adalah pihak yang memiliki atau memproduksi barang modal yang diperlukan oleh Lessee dengan perantaraan Lessor. Tidak menutup kemungkinan, dalam keadaan tertentu supplier bisa menjadi Lessor.
  • Asuransi dalam kegiatan leasing adalah pihak perusahaan yang akan menanggung risiko jika terjadi kerugian terhadap barang yang menjadi obyek leasing.

Mekanisme Perjanjian Leasing

Secara umum mekanisme perjanjian leasing dapat dijelaskan sebagai berikut ini:

  • Terjadi transaksi perjanjian leasing yang kemudian berlanjut pada penandatanganan perjanjian antara Lessor dengan Lessee. Dalam perjanjian leasing tersebut disebutkan perihal obyek leasing, jangka waktu sewa barang modal, jumlah dan cara pembayaran, adanya hak opsi atau tidak dan hal-hal lain yang sesuai dengan keperluan di dalam perjanjian leasing. Biasanya, perjanjian leasing akan disiapkan oleh Lessor dan perjanjian tersebut sifatnya standar kontrak.
  • Setelah perjanjian leasing ditandatangani oleh masing-masing pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut maka selanjutnya dilakukan pembayaran uang muka atau cicilan pertama dari Lessee kepada Lessor.
  • Selanjutnya, Lessor melakukan pemesanan barang modal disertai dengan pembayaran tunai atas barang modal yang disiapkan oleh Supplier. Jika Supplier sekaligus bertindak sebagai Lessor, maka tidak ada tahapan proses pemesanan barang modal.
  • Supplier sebagai pihak yang menyiapkan barang modal menyerahkan barang modal tersebut kepada Lessee.
  • Sebagai syarat untuk menjaga keamanan barang yang menjadi obyek leasing, dilakukan perjanjian penutupan asuransi oleh Lessor dan polis diserahkan kepada Lessee sebagai bukti adanya perjanjian leasing

Hal-hal yang tercantum dalam perjanjian Leasing

Perjanjian antara Lessor dan Lessee biasanya disebut Lease Agreement. Dalam Lease Agreement memua t beberapa hal yaitu nama dan alamat Lessee, jenis barang modal yang diinginkan, jumlah barang atau nilai barang yang dileasingkan, syarat-syarat pembayaran, syarat-syarat kepemilikan dan lain sebagainya, biaya-biaya yang dikenakan, sanksi-sanksi apabila Lessee tidak menepati janji yang telah disepakati dalam perjanjian leasing.

Seperti halnya pinjaman kredit Bank, tidak semua perjanjian leasing berjalan sesuai kehendak para pihak dan prosedur yang ada.

Tidak semua barang modal yang dibiayai akan terlunasi sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati, oleh karena itu perlu ada tindakan lebih lanjut bagi Lessee yang lalai berupa sanksi-sanksi yang telah disepakati misalnya berupa teguran lisan untuk segera melunasi, apabila teguran lisan tidak ditanggapi oleh Lessee maka berikan teguran secara tertulis, mengenakan denda sesuai dengan perjanjian leasing yang telah disepakati oleh masing-masing pihak hingga penyitaan barang yang akan dipegang oleh Lessee.

Di Indonesia ada beberapa perusahaan leasing yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu PT. JTrust Olympindo Multifinance, PT. BCA Finance, PT. BFI Finance Tbk, PT. BNI Multifinance, PT. Buana Finance dan lain sebagainya.

Leave a Comment