5+ Permasalahan UKM! Bagaimana Cara Untuk Mengatasinya?

Tahukah Anda tentang Permasalahan UKM! Bagaimana Cara Untuk Mengatasinya?? Jumlah Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia terus meningkat pesat setiap tahun.

Bedasarkan data Bappenas dan UNFP, jumlah UKM di Indonesia diprediksi mencapai 58,97 juta orang.

Selain itu, secara gabungan UKM juga telah berhasil menyerap sekitar 97% dari tenaga kerja nasional. Bedasarkan dua data ini, jelas bahwa UKM memiliki andil yang besar dalam membangun perekonomian negara Indonesia.

Terlepas dari potensi yang luar biasa, UKM di Indonesia masih memiliki sejumlah kendala, seperi modal usaha atau adaptasi teknologi digital.

Karena berbagai masalah ini, banyak operasional UKM yang tidak berjalan dengan lancar, sehingga tidak mengalami pertumbuhan dan tidak bertahan lama.

Permasalahan UKM dan Cara Mengatasinya

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini akan dibahas lebih mendalam berbagai masalah yang sering dialami oleh pelaku UKM dan tips mudah cara mengatasinya.

1. Minimnya Modal Usaha

Salah satu permasalahan UKM yang paling krusial adalah modal usaha yang terbatas. Karena itu, para pengusaha UKM tidak mampu menaikkan jumlah produksinya untuk meraih omzet yang lebih banyak.

Pelaku UKM mungkin memiliki banyak ide bisnis yang inovatif untuk mengembangkan usahanya. Akan tetapi, banyak dari mereka yang terhenti hanya karena tidak adanya modal.

Dilansir dari hasil survey perusahaan konsultansi asal Inggris PriceWaterhouse Coopers (PwC), 74% dari pelaku UKM di Indonesia belum mendapatkan akses pembiayaan dan modal.

Ini menandakan bahwa minimnya dukungan dari pemerintah dan beberapa instansi terkait mengenai pembiayaan dan penyediaan modal dalam mendorong pertumbuhan UMKM.

Untuk mengatasi masalah ini, teknologi bisa menjadi salah satu solusinya. Saat ini, banyak sekali pemanfaatan teknologi di sektor keuangan, misalnya seperti layanan financial technology (fintech).

Fintech hadir untuk mengubah dan mempercepat berbagai aspek pelayanan keuangan melalui teknologi, seperti pinjaman dan pengumpulan dana.

Contohnya fitur crowdfunding dan P2P lending mampu mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang bersedia memberikan dana sebagai modal atau bentuk investasi.

Kehadiran fintech di dunia teknologi dapat dijadikan opsi yang sangat baik untuk menopang usaha kecil menengah dalam konteks permodalan.

2. Masalah Distribusi dan Pemasaran Produk

Masalah lain yang kerap dialami pelaku UMKM adalah kurangnya efisiensi serta channel untuk mendistribusikan barang. Usaha yang ada masih mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut.

Selain itu, birokrasi yang memakan waktu dan biaya juga menghambat banyak produk lokal untuk sampai di toko tujuan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat juga pernah mengatakan bahwa masalah utama UKM di daerah adalah distribusi dan inefisiensi.

Ketimbang hanya berfokus kepada kualitas produksi barang, para pengusaha sebaiknya membuka diri terhadap penggunaan teknologi.

Melalui toko online atau e-commerce marketplace seperti Tokopedia atau Bukalapak, produk yang ditawarkan dapat menjangkau pasar yang lebih besar secara lebih cepat, sehingga distribusi dan penjualan dapat bertambah dalam waktu singkat.

3. Masalah Perizinan

Faktanya, sebagian besar UKM tidak memiliki pengetahuan yang memadai seputar aspek perizinan secara legal, mulai dari persyaratan hingga proses yang ditempuh dalam pengurusannya.

Banyak dari pelaku UKM memutuskan untuk tidak mengurus izin usaha karena terhalang sistem birokrasi yang dianggap rumit dan merepotkan.

Ketika pengusaha tidak memiliki izin usaha yang sah, maka kendala baru akan muncul. Usaha yang tidak berizin akan cenderung lebih sulit dalam mengajukan modal.

Maka dari itu, penting untuk pelaku usaha UKM untuk memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) yang diterbitkan bedasarkan domisili dan skala usaha.

SIUP ini nantinya berguna sebagai bukti sah dari pemerintah untuk menjalankan usaha. Untungnya, saat ini proses pengurusan perizinan dapat dilakukan secara online.

Daripada memilih untuk tidak mengurus SIUP, ada baiknya bagi para UKM untuk rajin-rajin mencari informasi cara mendaftar SIUP serta memantau perkembangan terkini seputar perizinan usaha di Indonesia melalui internet.

Anda juga sebagai pelaku UKM juga dapat berkonsultasi kepada para pakar hukum atau bisnis agar dapat mengambil langkah yang tepat mengenai masalah ini.  Hal ini dilakukan agar nantinya usaha dapat berjalan tanpa adanya hambatan legal dalam jangka panjang.

4. Pembukuan Keuangan Manual

Pembukuan keuangan manual merupakan metode yang masih paling sering digunakan oleh pelaku UMKM. Bahkan, beberapa pelaku UKM tidak memiliki pencatatan terkait hal ini.

Kesulitan dalam memperhitungkan omset, laba kotor dan net profit tidak jarang menghambat UKM untuk melakukan ekspansi pada bisnisnya.

Pembukuan yang sifatnya manual juga kerap menimbulkan banyak masalah karena metode pembukuan ini juga lebih mudah untuk rusak, hilang atau bahkan salah rekapitulasi. Meskipun terlihat sepele, pembukuan merupakan salah satu tugas krusial dalam berbisnis.

Data yang didapatkan dari pembukuan dapat digunakan untuk memantau kondisi, mengukur keberhasilan serta membantu merencanakan strategi usaha berikutnya.

Untuk mengatasi masalah ini, pelaku UKM dapat menggunakan software dan aplikasi akuntansi yang bisa diakses melalui komputer atau smartphone.

Aplikasi tersebut mudah digunakan dan biayanya juga lumayan bersahabat, sehingga proses usaha dapat direkap dengan metode yang lebih praktis, rinci, dan efisien.

5. Kurangnya Inovasi

Banyak pelaku UKM yang usahanya tidak berkembang karena minimnya inovasi. Fenomena ini mengakibatkan banyak UKM yang hanya mampu bertahan selama 1-2 tahun, lalu kemudian bangkrut karena produk dan jasa yang ditawarkan kalah bersaing.

Banyak pelaku UKM di Indeonesia yang menjalankan bisnis hanya karena ikut-ikutan tren tanpa membaca permintaan pasar.

Maka dari itu, tak heran jika jumlah produk UKM yang dapat menembus kancah internasional masih sangat sedikit.

Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya daya saing produk mereka.

Selain kurangnya daya saing, masih banyak produk UKM asal Indonesia yang kualitasnya belum sebanding dengan standar kualitas produk internasional.

Untuk meningkatkan daya saing produk, pelaku UKM harus bisa lebih inovatif dan kreatif dalam memproduksi barangnya.

Agar produk dilirik, Anda sebagai pelaku UKM harus menawarkan produk Anda dengan metode yang lebih inovatif dari segi pengembangan fitur produk maupun dari segi pemasaran.

Ada baiknya pula untuk para pengusaha UKM untuk upgrade ilmu dan keterampilan melalui forum, komunitas atau pelatihan yang biasanya diselenggarakan oleh berbagai macam instansi.

Di sisi lain, pengusaha UKM juga harus lebih proaktif dalam menganalisa dan mengevaluasi produk kompetitor serta tren bisnis terkini.

Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena melalui analisis ini, pelaku UKM secara mudah mendapatkan ide-ide segar yang dapat diterapkan dalam lineup produk.

Kesimpulan

Meskipun Indonesia memiliki potensi besar akan UKM sebagai penggerak roda perekonomian, mereka masih menghadapi berbagai macam tantangan.

Lima tantangan utama yang telah dijelaskan diatas menunjukkan secara jelas banyaknya pelaku usaha yang belum menyadari akan besarnya kebutuhan teknologi dalam menjalankan UKM.

Ketika dimanfaatkan secara efektif dan tepat sasaran, maka teknologi mampu memudahkan cara hidup pelaku usaha.

Selain itu, teknologi saja tidak cukup untuk membenahi berbagai permasalahan UKM. Penyelesaian masalah ini juga membutuhkan sinergi, kolaborasi serta dukungan dari berbagai macam pihak mulai dari pemerintah, media, komunitas, industri hingga akademisi.

Demikianlah penjelasan lengkap mengenai permasalahan yang sering dihadapi oleh para pelaku usaha skala kecil dan menengah.

Sebagai pelaku UKM, anda harus melihat permasalahan tersebut bukan sebagai penghalang, melainkan evaluasi untuk bisa maju dan berkembang lebih baik. Semoga informasi ini bermanfaat.

1 thought on “5+ Permasalahan UKM! Bagaimana Cara Untuk Mengatasinya?”

  1. Sangat informatif👍🏻 setelah membaca artikel ini saya jadi open minded ternyata menjadi pelaku UKM tidak hanya cukup dengan tekad berani memulai aja dulu tanpa dibarengi dengan belajar tentang pengetahuan yang bisa membuat UKM ini bisa terus berjalan dan berkembang .

    Reply

Leave a Comment